Kata-kata Penyemangat

Senin, 11 November 2013 lalu. Ketika itu masih pagi, dan ayah membangunkan saya.

Beliau berkata, “Bangun nak, bangun.. Ayo semangat!”

Jika dilihat sekilas memang sederhana saja kalimat yang disampaikan oleh beliau, tetapi begitu mengena di hati saya.

Di hari itu, saya beserta atasan di tempat saya bekerja (saat ini) akan ada presentasi selama 1 hari. Manajemen mempercayakan pada tim kami untuk presentasi pada beberapa staf.

Saya bertekad untuk datang ke kantor lebih awal, dan mempersiapkan segalanya. Target saya, acara dapat terlaksana dengan lancar.

Dan alhamdulillah, acara tersebut akhirnya berjalan dengan lancar, tanpa hambatan yang berarti.

 

Dari sini saya dapat menyimpulkan bahwa sekecil apapun bentuk perhatian yang diberikan orang-orang terdekat kita, entah itu orangtua, suami/istri, anak, dan lainnya dapat membuat kita menjadi lebih bersemangat. Motivasi terkadang memang datang dari diri sendiri, tetapi pengaruh lingkungan sekitar pun tetap diperlukan.

Sayangilah orangtua atau orang-orang terdekat kita.

Saling mengasihi satu sama lain.

InsyaAllah hidup kita akan bahagia.

Renungan Tentang Cinta Karena Allah SWT

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Namun ada sisi kesehariannya yang luar biasa!

Usianya sudah tidak muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari… saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing, Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

Berikut jawaban Pak Suyatno: ”Anak-anakku. ..Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa…. di saat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahan, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis.

“Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah… dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya… BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

(Semoga Allah SWT memberkahi para suami yang sholeh dan istri yang sholehah)

Penunjuk jalan di Dramaga

Ada yang baru di Dramaga. Sejak Selasa malam, 9 Oktober 2013 pekan lalu, sepulang kerja begitu sampai di Pertigaan Caringin, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor sudah ada penunjuk jalan yang baru. Saya sebagai warga Dramaga merasa senang dengan adanya penunjuk jalan ini. Dengan begitu dapat memudahkan masyarakat, terutama pendatang yang belum mengetahui daerah Dramaga dan sekitarnya.

Berikut penunjuk jalannya:

Pertigaan Caringin, Margajaya - Dramaga

Pertigaan Caringin, Margajaya – Dramaga

Tapi ada satu hal yang mengganggu saya di papan penunjuk jalan ini. Kenapa ada tulisan “Taman Darmaga Permai”. Perumahan kah? Atau tempat seperti apa itu? Sudah ikut nimbrung di penunjuk jalan (mungkin menitip ke Dishub Kabupaten Bogor), lalu salah pula dalam mengeja nama daerah.
Semestinya Dramaga bukan Darmaga.
Hal ini yang semestinya menjadi perhatian dari para pengembang, agar menyesuaikan penyebutan nama daerah sesuai dengan administrasi yang ada.
Semoga saja ada upaya untuk memperbaiki kesalahan ini.

Wake Me Up When September Ends

I
Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

II
Like my father’s come to pass
Seven years has gone so fast
Wake me up when September ends

III
Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are

IV
As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Back to I

Ring out the bells again
Like we did when spring began
Wake me up when September ends

Back to III and IV
Then Back to I and II

Wake me up when September ends (2x)

Rezeki setiap makhluk sudah dijamin oleh Allah Azza Wa Jalla

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”
(QS. Huud Ayat: 6)

Ayat di atas mengandung makna bahwa setiap makhluk di muka bumi, sudah Allah jamin rezekinya.
Allah mengetahui segala yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, dalam hal ini skopnya diperkecil menjadi setiap hamba-Nya.

Maka dari itu, di hari Jum’at yang InsyaAllah penuh barokah, penuh rahmat, penuh ridho, dan kasih sayang Sang Khaliq, mari kita tetap optimis dalam menjalani setiap episode kehidupan kita.
Nikmati hidup kita ini ya,
Marilah bersyukur wahai sahabat seperti ayat dibawah ini:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
(QS.ibrahim [14]: 7)

Tetap semangat dalam jalani segala aktivitas kamu ya sahabat
:)

September Ceria

Di ujung kemarau panjang
Yang gersang dan menyakitkan
Kau datang menghantar berjuta kesejukan

Kasih, kau beri udara untuk nafasku
Kau beri warna bagi kelabu jiwaku

Tatkala butiran hujan
Mengusik impian semu
Kau hadir disini, dibatas kerinduanku

Kasih, kau singkap tirai kabut hatiku
Kau isi harapan baru untuk menyongsong
masa depan bersama

Reff.
September ceria, September ceria
September ceria, September ceria
September ceria milik kita bersama

Ketika rembulan tersenyum
diantara mega biru
Kutangkat sebersit isyarat di mataku

Kasih kau sibak sepi di sanubariku
Kau bawa daku berlari di dalam asmara
Yang mendamba bahagia

Vina Panduwinata